Validasi Informasi Al-Quran

Informasi menurut KBBI adalah pemberitahuan, kabar, berita tentang sesuatu. Menurut para ahli bahasa, Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna untuk membuat keputusan. Informasi berguna untuk pembuat keputusan karena informasi menurunkan ketidakpastian (atau meningkatkan pengetahuan). Informasi menjadi penting, karena berdasarkan informasi itu para pengelola dapat mengetahui kondisi obyektif. Informasi tersebut merupakan hasil pengolahan data atau fakta yang dikumpulkan dengan metode ataupun cara – cara tertentu.

Dalam dunia islam sendiri, peran informasi dijadikan sebagai acuan dalam beragama. Berdasarkan wahyu yang pertama turun yaitu surah al Alaq disebutkan

إقرأ باسم ربك الذي خلق

 Yang artinya “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”

Membaca salah satu dari berbagai cara untuk mendapatkan informasi. Seseorang dikatakan ahli atau pakar dalam bidang tertentu artinya dia mampu mengumpulkan data, fakta, informasi yang lebih dari oranglain. Informasi bisa dikatakan kunci dari segala ilmu, melalui berbagai macam bahasa dan gaya penyampaian, informasi dapat diakses dengan mudah. Apalagi dengan bantuan media sosial yang ada pada zaman ini semakin mempermudahkan akses dalam mendapatkannya.

Namun, kendala muncul ketika ditanya darimana sumber informasi tersebut? Apakah bisa dipercaya? Lalu bagaimana sudut pandang islam terhadap masalah ini?

Kembali lagi ke wahyu yang berisi informasi akurat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w melalui mediator informasi yang bisa dipercaya. Yaitu malaikat Jibril, Sang Pemimpin. Jibril disebutkan juga dalam kitab Tauratnya Musa a.s dengan sebutan Namus yang dalam bahasa Ibrani artinya Sang Penjaga Rahasia. Dengan demikian, wahyu yang diturunkan tidak akan pernah bocor atau terjadi perubahan sedikitpun sampai dengan si penerima yang berhak. Di dalam Al Qur’an menyebutkan sebuah pedoman ketika kita menerima sebuah informasi, yaitu :

يآيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا

Yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya,..”

Meneliti kebenaran informasi bisa dilihat darimana informasi itu bersumber dan siapakah mediator informasi. Ada banyak kasus dimasyarakat kita yang mana terlalu bersemangat dalam menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu mencari kebenarannya sehingga hoax lah yang telah dia sebarkan.

Kebocoran informasi menjadi hal yang belum bisa diatasi dari dulu sampai sekarang. Bahkan, terkadang seseorang memanfaatkan dari kebocoran informasi itu untuk hal-hal negatif. Contoh yang akhir-akhir ini marak adalah pencurian saldo rekening nasabah suatu bank ternama hanya dengan menanyakan perihal data pribadinya. Yang mana secara langsung, dia menjadi korban kebocoran informasi. Contoh lain adalah korban perdukunan. Adalah pekerjaan setan mencuri dengar  informasi yang ada dalam rahasia penduduk langit untuk kemudian dia berikan kepada tukang sihir atau dukun. Satu kata dari data langit yang setan curi dikemas dengan ratusan kebohongan lain mampu menghipnotis korban untuk percaya. Sebuah kebetulan mendominasi mindset korban lebih kuat daripada ratusan ramalan yang meleset. Lalu timbullah sebuah pertanyaan semacam ” Bagaimana dengan Al Qur’an, bukankah hal yang mungkin setan juga mencuri data wahyu tersebut? “. Jawabannya ada pada stempel atau disebut juga segel keotentikan Al Qur’an dengan ayat :

إنا نحن نزلنا الذكر و إنا له لحافظون

Yang artinya “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya”

Dengan demikian, dikuatkan lagi pada ayat yang lain bahwasanya :

إلا من استرق السمع فاتبعه شهاب مبين

Yang artinya “kecuali (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dikejar oleh semburan api yang terang”

و إنا كنا نقعد منها مقعد للسمع فمن يستمع آلآن يجد له شهابا رصدا

Yang artinya “dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”

Penjelasan seorang ulama di bidang Teologi Islam, Syeikh Utsaimin (rahimahullah) mengatakan ancaman serangan api untuk siapa saja yang mencuri dengar informasi langit berlaku pada waktu diturunkannya Al Qur’an pada periode kerasulan Muhammad s.a.w saja. Setelah itu adalah hal yang mungkin terjadi kebocoran berita langit untuk suatu hikmah yaitu ujian keimanan untuk orang yang beriman dan jalan kesesatan yang nyata untuk orang yang bekerjasama dengan setan.

Waallahu a’lam

Fitria/Ar-rahman.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *