Tanda tanya untuk Film “?”

Alkisah, Rika, istri yang kecewa terhadap suami, memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Ia berujar, bahwa kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik, Rika sangat toleran. Anaknya , – masih kecil, bernama Abi –dibiarkannya sebagai Muslim. Bahkan, ia mengantarjemput anaknya ke masjid, belajar mengaji al-Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa makan sahur.

Di Film “?” (Tanda Tanya), Rika ditampilkan sebagai sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain, secara verbatim Rika mengatakan, agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan.  Ada juga yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya.

Itu yang terpampang dalam film “Tanda Tanya” garapan Hanung Bramantyo.  Padahal, dalam pandangan Islam, Rika telah murtad dari agama Islam.  Orang murtad, amalnya tidak diterima Allah (QS 2:217). Rika telah melakukan dosa syirik, karena mengakui Yesus sebagai Tuhan atau salah satu Oknum dalam Trinitas. Ini pandangan Islam.

Dalam al-Quran disebutkan, Allah sangat murka karena dituduh punya anak: “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS Maryam:88-91).

Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar dalam kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa, bahkan hubungan darah. Iman bukan “baju”, yang bisa ditukar dan dilepas kapan saja si empunya suka.

Maka sungguh, ajaib, dan penuh Tanda Tanya, mengapa di film “Tanda Tanya” soal ganti agama dianggap remeh?  Para pemikir ateis, seperti Karl Marx, Nietze, Freud, Sartre dan sejenisnya, terkenal dengan gagasan-gagasan yang memandang agama dan Tuhan sudah tidak diperlukan lagi. Mereka beramai-ramai mempermainkan Tuhan. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menyatakan: “even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.” (Karem Armstrong, History of God, 1993). Thomas J. Altizer,   dalam “The Gospel of Christian Atheism” (1966) menyatakan: “Only by accepting and even willing the death of God in our experience can we be liberated from slavery…”

 

Pluralisme Agama sejatinya sangat dekat dengan ateisme. Ketika orang menyatakan, “semua agama benar”, sejatinya bersemayam ide  pokok bahwa “semua agama salah”. Sebab, “Tuhan” (God), yang dipersepsikan kaum Pluralis adalah Tuhan yang abstrak dan Tuhan liberal. Tuhan kaum Pluralis adalah Tuhan dalam angan-angan, yang boleh diberi nama siapa saja, sifatnya apa saja, dan cara menyembahnya pun  boleh suka-suka. Tuhan dalam Islam mengharamkan babi. Pada saat yang sama, Tuhan dalam agama Kristen menghalalkan babi. Tuhan dalam Bhairawa Tantra menghalalkan menyembelih wanita dan darahnya kemudian diminum bersama-sama. Tuhan dalam agama Children of God menganjurkan seks bebas, sebagai wujud rasa kasih sayang. Tuhan, bagi kaum sekular, harus tunduk pada pikiran dan aturan manusia.

Ketika ada yang berkata, semua agama menyembah Tuhan yang sama, dia telah berdiri di luar agamanya sendiri.  Sebab, “Tuhan”, baginya, bisa siapa saja, berupa apa saja. Bisa Yehweh, bisa Allah, bisa Yesus, bisa Brahmin, dan bisa Iblis! Yang penting Tuhan, yang penting God!  Dan syahadat Islam “Tidak ada Tuhan selain Allah” jelas menolak pikiran seperti ini.

Kisah lain lagi!  Adalah Surya, seorang laki-laki Muslim. Dia berteman dengan Rika. Karena miskin, ia terusir dari rumah kosnya. Surya  memuji-muji Rika telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Ia berkawan akrab. Surya ditampilkan sebagai sosok yang polos, kocak dan naif.  Untuk uang, dan mungkin untuk mempertontonkan fenomena “kerukunan umat beragama”, Surya menerima peran sebagai Yesus. Ia rela dipaku di tiang salib di sebuah Gereja Katolik saat perayaan Paskah. Sesekali ia berperan sebagai SantaClaus.

Setelah itu, ia kembali ke masjid membaca surat al-Ikhlas, sebuah surat dalam al-Quran yang menegaskan kemurnian Tauhid. “Katakan, Allah itu satu. Allah tempat meminta. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Allah itu satu! Allah tidak punya anak!  Ini gambaran dalam Film “?”

Padahal, surat al-Ikhlas seperti mengoreksi doktrin pokok dalam agama Kristen, yang dirumuskan sekitar 300 tahun sebelumnya, di Konsili Nicea (325 M), sebagaimana disebutkan dalam Nicene Creed:   “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa…” (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).

Padahal, al-Quran menjelaskan: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS 61:6). Dalam al-Quran, ada cerita Lukmanul Hakim yang menesehati anaknya: “Syirik adalah kezaliman besar.” (QS 31:13).

 

Beratus tahun, sejak kelahirannya, Islam membuktikan sebagai agama yang toleran, mengakui dan menghargai perbedaan, tanpa harus kehilangan keyakinan. Saat Nabi Muhammad s.a.w. diutus, sudah eksis pemeluk Yahudi, Kristen, dan kaum musyrik Arab. Nabi Muhammad  s.a.w. mengajak mereka untuk memeluk Islam, mengakui Allah satu-satunya Tuhan dan dirinya adalah utusan Allah. Bahkan, ada perintah al-Quran: “Katakan, hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah!”

Saat semua agama dikatakan  sebagai jalan kebenaran, saat itu tidak ada beda antara iman dan kufur, tiada  penting lagi, apakah seorang bertauhid atau musyrik; tak perlu dipersoalkan makan babi atau ayam, minum khamr atau sari madu; tidak penting lagi berjilbab atau telanjang; nikah atau zina; yang penting mengasihi sesama manusia.  Saat itu, sejatinya, agama-agama sudah tidak ada.  Yang ada “agama global”, “agama universal”, “agama kemanusiaan”, “agama cinta”.

Walhasil, film “?” membawa pesan yang terlalu jelas: agama apa saja, sama saja! Agama bukan soal penting; boleh ditukar kapan saja!  Ini jelas bagian upaya penghancuran agama-agama!  Wajar, muncul tanda tanya: apa ini kesengajaan atau ketidaktahuan? Wallahu a’lam bil-shawab. (***)

dinukil dari artikel
Dr. Adian Husaini / Pemikir Peradaban Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *