Kisah Islamnya Sastrawan W.S Rendra

W.S. Rendra yang memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Sejak muda, dia menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa.

Lahir: Surakarta,7 November 1935
Meninggal: Depok,6 Agustus 2009

Islam itu agama yang sempurna. Salah satu ayat yang mengilhami almarhum W.S Rendra hijrah masuk islam adalah surah Al Qomar ayat 32 yang artinya “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk peringatan maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran”.

Isi testimoninya sebagai berikut : “Agama islamlah yang dengan tegas mengatakan bahwa Allah SWT itu Maha Esa. Jika ada agama yang sanggup memberikan kepuasan intelektual dan spiritual kepada saya, agama itu adalah agama Islam”.

Saya berani mengatakan demikian karena saya punya pengalaman memeluk banyak agama dan bahkan pernah tidak beragama, dalam pengertian hanya percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Kuasa.

Secara teologis kepuasan saya terhadap agama islam, saya temukan dalam surah Al-Ikhlas. Apa sebab saya berkata demikian? Sebab hanya agama Islamlah yang dengan tegas mengatakan bahwa Allah SWT itu Maha Esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Alasan lain bagi saya karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantui saya selama ini, yakni kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memperlukan pertolongan oranglain sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, seperti yang disampaikan Al Qur’an yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Keyakinan saya tentang ini tidak bisa ditawar lagi. Saya rela memeluk agama Islam yang dibawa oleh Muhammad s.a.w, saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah, rahmat dan karuniaNya kepada saya untuk memeluk islam.

Saya mulai tertarik dengan Islam sejak saya belajar drama di Amerika Serikat. Saya mengenal agama Islam pada awalnya dari leaflet yang dibagi-bagikan oleh orang-orang Muslim kulit hitam. Saat itu saya baca surah Al-Ikhlas yang menggetarkan hati saya. Iman saya terguncang pada saat membaca surah itu.

Kegelisahan saya memuncak apalagi setelah saya membaca surah lainnya seperti surah al Maa’uun. Ya, surah itu sungguh luar biasa, tidak hanya mengungkap soal hubungan manusia dengan Tuhannya yang diekspresikan dalam ibadah shalat, tetapi juga berbicara soal pentingnya memerhatikan anak-anak yatim dan orang miskin. Orang yang sholat pun akan celaka bukan hanya karena ia lalai dengan shalatnya, tetapi juga karna ia menghardik anak yatim dan melupakan orang-orang miskin.

Dalam konteks yang demikian itu, manusia tidak hanya membangun hubungan dirinya dengan Tuhannya, tetapi juga dengan sesama manusia.

Dengan adanya keyakinan bahwa Allah SWT itu Esa, sebagaimana yang diungkap dalam surah Al-Ikhlas, seketika itu juga saya meragukan agama yang saya anut dan bukan pada saat itu saja karaguan itu muncul bahkan pada masa kecil dahulu pun sudah ada rasa keraguan dengan agama yang saya anut sekarang.

Jadi, dengan keraguan semacam itu, sesungguhnya saya tidak beragama. Tetapi demikian saya tetap yakin akan adamya Tuhan yang Maha Kuasa. Itulah yang saya maksud dengan tidak beragama itu, sebelum saya memeluk Islam, meski getarnya sudah mengguncang hati saya. Dalam keadaan kekosongan spiritual seperti itulah saya masih sempat memeluk agama lainnya di luar agama Islam dan Kristen Katolik. Saya pernah memeluk agama Hindu dan Budha, tetapi batin saya tetap resah tidak terpuaskan.

Begitu saya mantap dengan Islam, Alhamdulillah jiwa saya semakin tenang. Dalam konteks inilah saya menemukan kepuasan baik secara intelektual maupun secara spiritual.

Surah lainnya yang menggetarkan saya ketika di Amerika, surah al ‘Ashr. Dalam surah itu kita dihadapkan pada soal pengelolaan waktu. Orang-orang yang merugi adalah orang yang tidak bisa mengelola waktu dalam hidupnya di jalan kebaikan. Jalan kebaikan saja tidak cukup. Ia ternyata harus beriman, beramal shaleh, mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Jadi, lewat surah-surah yang sebutkan tadi,sekali lagi saya tegaskan bahwa Islam datang kepada saya lewat pemahaman intelektual dan spiritual.

Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang saya ajukan selama ini terjawab sudah. Subhanallah, saya tidak menyangka bisa sampai pada kenikmatan hidup seperti sekarang ini.

Sekarang, masalahnya adalah tinggal bagaimana saya bersyukur dan memanifestasikan rasa syukur saya kepada Allah SAW.

Fitria/Ar-rahman.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *