Hari raya ied-ul fitri bertepatan dengan hari jumat

Dalam tulisan Fadhilatus Syaikh Akrom ‘Ishbān Asy-Syafi’iy menjelaskan tentang bagaimana jika solat ied bertepatan dengan hari jumat, bolehkan meninggalkan solat jumat dan diganti dengan solat dhuhur atau tidak boleh dan tetap melaksanakan solat jumat.

Ada 3 pendapat dikalangan ulama dalam masalah sholat ‘Idd yang bertepatan pada hari jum’at :

1. Kewajiban sholat jumat tidak gugur atas penduduk kota tapi gugur atas penduduk pelosok,jika penduduk pelosok itu selesai melaksanakan ‘Idd maka boleh bagi mereka pulang ke kampung mereka dan meninggalkan sholat jum’at,ini berdalil dengan hadits utsman bahwa beliau berkata dalam khutbahnya :

“Wahai sekalian kamu muslimin,hari ini telah berkumpul 2 hari raya (idd dan jum’at) siapa saja dari penduduk ‘Āliyah (yg tidak menetap) ingin sholat jum’at bersama kami maka lakukanlah,barangsiapa saja yang ingin pulang maka dipersilahkan (aku tidak melarang) (Muttafaqun ‘Alaih)
Tidak ada dari sahabat yang mengingkari ucapan Utsman (tidak adanya pengingkaran sebagai bukti atas persetujuan sahabat),ini adalah pendapat syafi’iyyah dan madzhab jumhūr ulama.

2. Kewajiban sholat jum’at gugur atas penduduk kota maupun penduduk pelosok,akan tetapi diwajibkan sholat dzuhur,berdalil dengan hadits Zaid bin Arqom dia berkata :
“Aku pernah mendapatkan 2 hari raya berkumpul (dalam 1 hari) saya melihat beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sholat ‘idd lalu memberi keringanan utk meninggalkan sholat jum’at,beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :

“Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan”.(H.R Abu Daud) dan ini madzhab Hanabilah,dan imam tetap melaksanakan sholat jum’at.

3. Kewajiban sholat jum’at tidak gugur atas penduduk negri (kota) atau penduduk pelosok,dan hujjah mereka adalah asalnya sholat jum’at adalah wajib,dan ini pendapat ahnāf.

Dan pendapat yang terpilih adalah pendapat jumhūr,dan syafi’iyyah menta’wīl hadits Zaid bin Arqom itu untuk penduduk pelosok.

Dalam hal ini lebih selamat mengikuti pendapat jumhūr ulama,tetap jum’atan jika didaerahmu diadakan sholat jum’at,adapun bila kamu tinggal di pelosok negri yg disana tidak ditegakkan sholat jum’at maka boleh tidak sholat jum’at namun jika ingin tetap jum’atan maka dipersilahkan.

Namun jika ingin mengambil pendapat lain maka tidak disalahkan,tapi ingat ambil pendapat itu dikarenakan yakin kalau pendapat itu yang terkuat bagimu bukan utk tatabbu’ rukhosh (cari-cari keringanan).

Diterjemahkan oleh : Faruq Sinambela (Pelajar Fiqh Syafi’iy) di bumi Yaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *