Globalisasi; Antara Guru & Realitas Sosial-Budaya.

Manusia sebagai makhluk sosial sudah barang tentu tidak bisa hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan  manusia lainnya. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, di ciptakan dengan di bekali akal yang dinamis; yang mana sudah seharusnya dengan bekal tersebut manusia dapat hidup mengikuti dan juga mengkritisi perkembanagan zaman.

Di zaman kehidupan global sekarang ini perkembangan teknologi sangat berkembang pesat. Perkembangaan tersebut sangat mempengaruhi berbagai aspek-aspek kehidupan manusia dalam bermasyarakat, di antaranya yaitu kehidupan sosial dan budaya.

Pada zaman globalisasi sekarang ini banyak sekali adat istiadat atau kebudayaan yang sudah turun temurun di wariskan dari generasi ke genarasi sudah mulai tergerus dan dilupakan, sehingga lambat laun identitas budaya pun mulai tak dikenali. Tak terkecuali dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, dampak globalisasi pun sangat tampak terlihat pengaruhnya dalam kehidupan sosial-budaya masyarakatnya. Merebaknya budaya barat tidak bisa di hindari di kalangan masyarakat yang sehingga menyebabkan disorientasi, dislokasi dan krisis sosial budaya. Berbagai ekspresi sosial budaya yang sebenarnya “alien” yang tidak memiliki dasar dan contoh kulturalnya dalam masyarakat kita, semakin menyebar pula  dalam masyarakat kita sehingga memunculkan kecenderungan “gaya hidup” baru yang tidak sesuai bagi kehidupan sosial-budaya masyarakat dan bangsa kita. Hal itu bisa di lihat misalnya seperti meluasnnya budaya perayaan Valentine’s day pada kalangan remaja. Meminjam ungkapan Edward said, gejala ini tidak lain dari “cultural Imperialism” baru, menggantikan  imperialisme klasik.

*****

Sekolah & Guru Sebagai Solusi?

Sebagian orang pada zaman sekarang ini masih menganggap sekolah adalah solusi untuk menghadapi penetrasi dan ekspansi ke-alien-an dalam konteks sosial-budaya masyarakat Indonesia. Sekolah memang pada esensinya adalah institusi pendidikan yang tujuannya yaitu jelas untuk mendidik, oleh karena itu institusi ini di jalankan oleh orang-orang yang berkompetensi di bidang pendidikan.

Di dalam landasan-landasan penyelenggaran pendidikan formal sudah jelas bahwa pendidikan tidak hanya tentang proses transfer pengetahuan dan pengembangan keterampilan yang di butuhkan peserta didik untuk bekal di dunia kerjanya nanti, melainkan juga untuk mendidik karakter peserta didik. Seperti yang termaktub dalam UU no. 20 tahun 2003 yang mengartikan pendidikan adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam hal ini, guru merupakan ujung tombak yang di percayai dapat mendidik para peserta didik di sekolah. Kata “guru” itu sendiri dalam bahasa jawa di artikan sebagai seseorang yang pantas di gugu dan di tiru (menjadi tauladan). Di samping itu seorang guru di sekolah formal sebagai tenaga profesional juga haruslah mampu memahami dan mampu mempraktikkan kompetensi-kompetensi keprofesionallannya, seperti menguasai bahan bidang studi, pengelolaan program belajar mengajar, pengelola kelas,  kompetensi sosial, dan kompetensi lainnya.

Di lain sisi, guru sebagai pengajar dan pengelola kelas di sekolah juga merupakan bagian dari masyarakat. Guru sebagai bagian dari masyarakat merupakan salah satu pribadi yang menurut sebagian orang mendapat perhatian khusus dimasyarakat. Oleh karena itu, diperlukan sejumlah kompetensi sosial yang perlu di miliki guru dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat di tempat dia tinggal. Oleh Langeveld(1955) seorang guru adalah “penceramah jaman”, maka dari itu seorang guru harus mempunyai kompetensi sosial dan kepekaan terhadap realitas budaya.

Melihat keterkaitan antara kompetensi sosial seorang guru dengan perkembangan zaman. Seorang guru dengan profesionalitasnya tak lebih dari seseorang yang mengenyang pendidikan keguruan di sebuah institusi pendidikan tinggi. Di lain sisi seorang guru juga makhluk sosial biasa yang sangat berkemungkinan terpapar dampak negatif globalisasi, bahkan menjadi pengidap ke-alienan-an sosial-budaya.

******

Lantas, jikalau seorang guru yang di jadikan tauladan adalah seseorang yang kurang peka terhadap realitas budaya bahkan juga menjadi bagian pengidap ke-alien-an, akankah pengintegrasian sosial-budaya untuk menunjang kesadaran identitas budaya di dalam proses belajar mengajar di sekolah formal akan sesuai dengan harapan?

Ataukah sekolah yang di selimuti bayang-bayang ke-alien-an dan pragmatisme itu hanya di anggap sebagai ajang investasi oleh para orang tua peserta didik, agar nantinya putra-putri tersayang mendapat pekerjaan yang berpenghasilan tinggi setelah lulus sekolah?

Masihkah relevan jikalau pengintegrasian budaya bangsa di dalam sekolah masih sebatas “Hidden Curiculum” di tengah derasnya arus globalisasi yang menyebabkan penetrasi dan ekspansi sosial-budaya yang sebenarnya “alien” yang kemudin begitu mudahnya di terima oleh sebagian besar masyarakat kita?

Abdul/ Pekalongan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *